Sabtu, 24 Desember 2016

Dan itu adalah "AKU"



Tahukah kamu mengapa aku menulis ini?
Tentu saja kau tak tahu.
Akupun tak tahu alasannya.
Barangkali tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan atau perlu dijelaskan.
Terlalu banyak hal di dunia ini yang membutuhkan penjelasan sehingga kita lupa makna dari menjadi tidak tahu.
Terlalu banyak omong kosong dan kata-kata yang lahir dari perdebatan perihal makna.
Tapi terlalu sedikit yang benar-benar memahami bahwa hal-hal yang coba dijelaskan itu seringkali tak lebih berguna daripada diam dan menerima.

Kita yang tak pernah berjumpa juga tidak pernah berkenalan. Lantas mengaku rindu.
Tapi apakah itu perlu?
Kenapa tidak?
Bukankah hati setiap manusia Tuhan yang ciptakan?
Yang mampu mendobrak sisi rasionalitasnya sendiri?
Kita adalah sepasang manusia ganjil yang belum pernah bertemu. Lantas  jatuh hati.
Aku jatuh hati.
Entah dirimu.
Entah dengan apa adanya dirimu, apa yang kau rasakan?
Apakah kau seperti aku?
Merasakan kesepian dan rindu yang menggebu?
Merasa sendiri dengan nyeri melilit di ulu hati? Atau kau sibuk mengutuk?
Sehingga lupa cara mengantuk?
Aku tidak tahu, karena memang kita belum bertemu.

Mungkin kalimatku terlalu rumit untuk bisa dipahami.
Tapi apa yang lebih rumit dari  jatuh cinta pada seseorang yang hanya pernah ia temui didunia maya, tidak pernah ditemui didunia nyata?
Tentu saja kita akan sama-sama bergumam 'mustahil', akupun begitu.
Tapi didepan ketidak-mungkinan itu,
Kamu ada.

Aku tahu kau ada disana.
Di satu titik, di maha luasnya bumi ini, kau sedang menunggu. Barangkali kau berdiri dengan cemas sambil membereskan kamar tidurmu, atau melongo didepan cermin sambil gosok gigi,
mungkin kau sedang tersenyum bahagia di antara rimbun pepohonan depan kelas, atau kau sedang diam berkelahi dengan empat kepribadian di dalam kepalamu.
Aku tahu kau ada.
Kau disitu sendirian sedang menunggu agar segala omong kosong sunyi soal hidup brengsek yang kau rasakan segera berakhir.

Aku juga begitu.
Menunggu agar pada sebuah waktu yang tepat kita akhirnya akan berjumpa.
Bertemu dan kemudian berbincang tentang banyak hal.
Soal malam yang panjang, tentang gigi gingsulmu, tentang dagumu yang manis, tentang matamu yang mungil, tentang betapa lengkung alismu yang tipis itu sangat mempesona.

Ya, kita akan berbicara tentang banyak hal.
Tapi tidak saat ini…
Tidak mungkin saat ini.
Kita belum bertemu dan kau belum ditemukan.
Mungkin nanti ketika kita sudah usai berdamai dengan diri kita masing-masing, kita akan berjumpa selayaknya kawan lama.
Saling merangkul, tapi tidak untuk saling bercumbu, jika kamu menolaknya.

Setiap dari kita setidaknya akan membawa  setetes kewarasan masing-masing.
Cerita tentang gigir yang penuh luka. Penampang kengerian bernama masa lalu yang membuat kita selalu menemukan sudut komikal dari takdir paling keji.
Itulah kita.
Sepasang manusia yang merasakan cinta tapi tak pernah bertemu dan betegur sapa.
Tapi apakah itu mungkin?
Apakah mungkin dari milyaran manusia yang ada kita berjumpa dan menjadi satu?
Menjadi hal yang kita sendiri tidak yakini bisa terjadi.
Mengakhiri kesepian yang terjadi ketika malam datang dan sunyi menyerang.

Kesepian itu menyesakan.
Ia datang menyeka rupa, lalu memberikan harapan bahwa di luar sana, ada seseorang yang mencintaimu, merindukanmu, mampu mengakhiri rasa sendirimu.
Tapi ia juga adalah kesunyian itu sendiri, diam yang kering, kaku dan pelan-pelan merambat bahwa sebenarnya kita sedang tidak bersama siapapun.
Tapi aku tahu kau ada. Di satu sudut sunyi, barangkali di belahan dunia yang lain, kamu sama sepertiku.
Sendirian meringkuk dan merindukan kebersamaan dengan yang lain.

Tapi siapapun dirimu.
Siapapun kamu.
Orang asing yang belum pernah aku jumpai atau aku kenali rupa aslinya.
Sadarilah ini.
Aku mencintaimu.
Mencintai dengan seluruh perasaan yang bisa aku rasakan, Mencintai dengan seluruh emosi yang aku miliki dan
Mencintai dengan seluruh kesanggupan yang aku bisa.
Kamu mungkin tak ada.
Kamu mungkin belum ada.
Kamu mungkin tak pernah ada.
Tapi aku tahu aku mencintaimu.
Mencintai dengan hati dan tidak masuk akal.

2 komentar: