Tahukah
kamu mengapa aku menulis ini?
Tentu
saja kau tak tahu.
Akupun
tak tahu alasannya.
Barangkali
tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan atau perlu dijelaskan.
Terlalu
banyak hal di dunia ini yang membutuhkan penjelasan sehingga kita lupa makna
dari menjadi tidak tahu.
Terlalu
banyak omong kosong dan kata-kata yang lahir dari perdebatan perihal makna.
Tapi
terlalu sedikit yang benar-benar memahami bahwa hal-hal yang coba dijelaskan
itu seringkali tak lebih berguna daripada diam dan menerima.
Kita
yang tak pernah berjumpa juga tidak pernah berkenalan. Lantas mengaku rindu.
Tapi
apakah itu perlu?
Kenapa
tidak?
Bukankah
hati setiap manusia Tuhan yang ciptakan?
Yang
mampu mendobrak sisi rasionalitasnya sendiri?
Kita
adalah sepasang manusia ganjil yang belum pernah bertemu. Lantas jatuh hati.
Aku
jatuh hati.
Entah
dirimu.
Entah
dengan apa adanya dirimu, apa yang kau rasakan?
Apakah
kau seperti aku?
Merasakan
kesepian dan rindu yang menggebu?
Merasa
sendiri dengan nyeri melilit di ulu hati? Atau kau sibuk mengutuk?
Sehingga
lupa cara mengantuk?
Aku
tidak tahu, karena memang kita belum bertemu.
Mungkin
kalimatku terlalu rumit untuk bisa dipahami.
Tapi
apa yang lebih rumit dari jatuh cinta
pada seseorang yang hanya pernah ia temui didunia maya, tidak pernah ditemui
didunia nyata?
Tentu
saja kita akan sama-sama bergumam 'mustahil', akupun begitu.
Tapi
didepan ketidak-mungkinan itu,
Kamu
ada.
Aku
tahu kau ada disana.
Di
satu titik, di maha luasnya bumi ini, kau sedang menunggu. Barangkali kau
berdiri dengan cemas sambil membereskan kamar tidurmu, atau melongo didepan
cermin sambil gosok gigi,
mungkin
kau sedang tersenyum bahagia di antara rimbun pepohonan depan kelas, atau kau
sedang diam berkelahi dengan empat kepribadian di dalam kepalamu.
Aku
tahu kau ada.
Kau
disitu sendirian sedang menunggu agar segala omong kosong sunyi soal hidup
brengsek yang kau rasakan segera berakhir.
Aku
juga begitu.
Menunggu
agar pada sebuah waktu yang tepat kita akhirnya akan berjumpa.
Bertemu
dan kemudian berbincang tentang banyak hal.
Soal
malam yang panjang, tentang gigi gingsulmu, tentang dagumu yang manis, tentang
matamu yang mungil, tentang betapa lengkung alismu yang tipis itu sangat
mempesona.
Ya,
kita akan berbicara tentang banyak hal.
Tapi
tidak saat ini…
Tidak
mungkin saat ini.
Kita
belum bertemu dan kau belum ditemukan.
Mungkin
nanti ketika kita sudah usai berdamai dengan diri kita masing-masing, kita akan
berjumpa selayaknya kawan lama.
Saling
merangkul, tapi tidak untuk saling bercumbu, jika kamu menolaknya.
Setiap
dari kita setidaknya akan membawa
setetes kewarasan masing-masing.
Cerita
tentang gigir yang penuh luka. Penampang kengerian bernama masa lalu yang
membuat kita selalu menemukan sudut komikal dari takdir paling keji.
Itulah
kita.
Sepasang
manusia yang merasakan cinta tapi tak pernah bertemu dan betegur sapa.
Tapi
apakah itu mungkin?
Apakah
mungkin dari milyaran manusia yang ada kita berjumpa dan menjadi satu?
Menjadi
hal yang kita sendiri tidak yakini bisa terjadi.
Mengakhiri
kesepian yang terjadi ketika malam datang dan sunyi menyerang.
Kesepian
itu menyesakan.
Ia
datang menyeka rupa, lalu memberikan harapan bahwa di luar sana, ada seseorang
yang mencintaimu, merindukanmu, mampu mengakhiri rasa sendirimu.
Tapi
ia juga adalah kesunyian itu sendiri, diam yang kering, kaku dan pelan-pelan
merambat bahwa sebenarnya kita sedang tidak bersama siapapun.
Tapi
aku tahu kau ada. Di satu sudut sunyi, barangkali di belahan dunia yang lain,
kamu sama sepertiku.
Sendirian
meringkuk dan merindukan kebersamaan dengan yang lain.
Tapi
siapapun dirimu.
Siapapun
kamu.
Orang
asing yang belum pernah aku jumpai atau aku kenali rupa aslinya.
Sadarilah
ini.
Aku
mencintaimu.
Mencintai
dengan seluruh perasaan yang bisa aku rasakan, Mencintai dengan seluruh emosi
yang aku miliki dan
Mencintai
dengan seluruh kesanggupan yang aku bisa.
Kamu
mungkin tak ada.
Kamu
mungkin belum ada.
Kamu
mungkin tak pernah ada.
Tapi
aku tahu aku mencintaimu.
Mencintai
dengan hati dan tidak masuk akal.